Cerpen Hubungan Manusia Dengan
Cinta Kasih
HUKUM KARMA
Kupandangi layar handphoneku untuk
kesekian kalinya. Dan senyumku muncul ketika kulihat nama Ryan terpampang pada
handphoneku. Kuangkat telepon
tersebut dengan rasa senang.
“Kiara, aku butuh bantuanmu!” suara
Ryan terdengar ngos-ngosan di telepon
“apa yang bisa ku bantu?”
“aku sedang bersama Nina, dan aku lupa
untuk membuat tugasku. Kamu mau bantu aku membuat laporannya kan?” Seketika
senyumku menghilang ketika Ryan sedang bersama Nina.
“hmm
okay. Bisa ku atur”
“terima kasih ra, kamu memang teman yang baik. Bye!”
Aku pun membanting handphoneku ke kasur
dan mulai meraih laptopku untuk mengerjakan tugas Ryan.
***
“Ryan kemana sih? Ini sudah mau masuk
lab” aku menggerutu kesal sambil melirik jam tanganku. Hani yang sedari tadi
menemaniku terlihat kesal juga
“apa ku bilang, dia pasti telat ra,
yasudahlah tunggu saja. Toh kalo dia telat kita gak rugi ini” aku memutar
mataku dan melirik Hani
“tapi dia menitipkan tugasnya padaku
Han. Aku merasa gak enak lah.”
“Kiara sayang, sudah berapa kali ku bilang? Kamu hanya
diperalat sama dia” aku tergelak mendengar pernyataan Hani.
“gak mungkin Han. Dia gak mung-“
ucapanku terputus ketika mendengar asisten lab memanggil agar masuk keruangan
lab. Aku mulai panik ketika aku belum melihat Ryan datang ke kampus.
“ayo ra,kita harus masuk! Aku gamau
duduk dibelakang. Dan kau juga gak mau kan?” Hani menarikku dan aku langsung
menepis tangannya.
“kamu duluan saja, aku tungguin Ryan
dulu”
“raaa! Ah yasudahh aku duluan” Hani pun
masuk ruangan sedangkan aku masih menunggu Ryan diluar lab.
Setelah menunggu 5 menit,akhirnya aku
melihat Ryan berlarian keluar lift. Aku pun bernafas lega ketika melihat dia
datang.
“Ra aku benar-benar minta maaf ya”
“tak apa Yan. Ayo sebaiknya kita masuk.
Lab sepertinya sudah mulai.” Ryan pun mengangguk dan aku melangkah lesu masuk
kedalam lab. Ternyata sesampainya kedalam,aku mendapat posisi computer dipaling
belakang. Aku pun mulai kesal karena Ryan yang sedari tadi kutunggu mendapatkan
duduk paling depan. Aku benar-benar tidak memperhatikan lab dengan seksama
karna perasaan kesalku ke Ryan. Ketika lab berakhir,aku pun menghindar dari Ryan.
“kamu kenapa ki?” Hani menepuk pundakku
dan aku memutar badanku menghadapnya
“aku benar-benar merasa tidak dihargai”
aku pun mulai menangis dan Hani mulai memelukku
“hei ki aku- eh kamu kenapa?” Ryan pun
menghampiriku dan aku langsung menarik Hani pergi.
***
Setelah kejadian itu, aku dan Ryan saling tidak bertegur sapa
satu sama lain. Aku bahkan sudah jarang melihat Ryan masuk kuliah. Kadang rasa
jengkel sewaktu itu masih saja ku
pikirkan. Tetapi karna aku peduli padanya, kesalku pun kadang hilang begitu saja.
hingga suatu hari Ryan menelponku. aku pun dengan malas-malasan mengangkatnya.
“ra aku minta maaf” kudengar nada
bicara Ryan sedikit menyesal
“untuk yang kemarin? Aku sudah
memaafkanmu”
“bukan untuk itu ra” aku menautkan
alisku. Apa maksudnya?
“lalu?”
“Aku hanya memanfaatkanmu selama ini.
Maaf juga kalau andai kata aku member harapan palsu padamu” Ryan pun langsung
mematikan telponnya. Aku terbengong sementara waktu. Apa maksudnya dia berkata
seperti itu? Aku merasa semakin kesal pada Ryan. Semua rasa peduli yang sedari
dulu aku rasa dengan tiba-tiba menghilang begitu saja. segera kutelfon Hani dan
menceritakan semuanya.
“aku sudah mengetahuinya Ra” jawaban
Hani membuatku kaget.
“kau tau dari mana Han?”
“Ryan yang cerita denganku. Aku sudah menyangka
dari awal”
“menyangka apa? Cepat jawab jangan
buatku penasaran”
“dia memanfaatkanmu karna kau
menyukainya ra. Dia mendekatimu agar dia dapat mendapatkan tugas. Kau lihat
saja kan dia jarang kuliah? Sudah kuperingati juga dari dulu kan. Kau hanya dimanfaatkan”
aku terdiam dengan jawaban Hani. Aku benar-benar merasa kesal pada Ryan. Dan
aku juga merasa bodoh sudah peduli dengannya dan mau saja dia suruh ini dan
itu. Aku pun langsung mematikan teleffonku dan membantingnya ke sembarang
tempat. Rasa kesalku pada Ryan benar-benar sudah menghilangkan rasa suka
padanya.
***
Hingga suatu saat Ryan menghubungiku
kembali. Setiap malam dia mengirimiku pesan singkat. Jujur saja itu benar-benar
menggangguku. Yang sebenar nya aku sudah bisa untuk melupakan Ryan dan move on kepada seseorang yang sudah
memberiku perhatian lebih. Disetiap pesan yang Ryan kirim seperti ada sesuatu
yang ingin bicarakan nya, tapi Aku hanya membalas seadanya.
Kali ini, pesan singkat Ryan sangat membuat
jengkel dan aku sangat ingin melampiaskan kekesalanku padanya. Tapi apa
boleh buat. Aku tak bisa berbuat apa-apa. Ketika aku membuka
pesannya,aku langsung menegerutkan keningku.
"Ra ada yang mau aku bicara kan
kepada mu, sebenernya aku memiliki perasaan kepadamu tapi mungkin aku salah menyampaikan
nya dengan memintamu untuk membuatkan tugasku dan memanfaatkan mu itu hanya
untuk mengambil perhatianmu tapi ternyata karna itu membuatmu jadi benci kepada
ku" Ryan mengungkapkan perasaan
nya.
"tapi sekarang perasaan ku pun
sudah hilang bersama hilang nya kamu yang tidak pernah aku lihat lagi untuk
kuliah. Maaf tapi aku benar-benar sudah menghilangkannya. Aku bahkan sudah
tidak mengharapkan kamu ada lagi di kehidupanku" aku pun mengira itu
jawaban yang tepat buat Ryan.
Dengan mudahnya Ryan mengungkapkan itu
tanpa harus memikirkan perasaan seorang wanita terlebih dahulu sudah jelas
salah apa yan dia lakukaan. Ryan bahkan tidak berfikir untuk membuat wanita iu bahagia. Tetapi
malah memanfaatkannya. Sekarang ketika dia sudah menyadari kesalahannya,perasaan
Kiara sudah hilang seutuhnya. Dan Kiara
sudah tidak ada lagi komunikasi kepada Ryan.
Karma berlaku bukan?
Sumber Referensi : http://rizkyameliah.blogspot.com/2013/07/cerpen-manusia-dan-cinta-kasih.html
Sumber Referensi : http://rizkyameliah.blogspot.com/2013/07/cerpen-manusia-dan-cinta-kasih.html
Inti dari Cerpen diatas : Jangan
pernah mempermainkan perasaan orang lain, karena hukum
karma itu ada.
LIRIK LAGU UNTUK PEREMPUAN YANG SEDANG
DALAM PELUKAN by PAYUNG TEDUH
Tak terasa gelap pun jatuh
Diujung malam menuju pagi yang dingin
Hanya ada sedikit bintang malam ini
Mungkin karena kau sedang cantik-cantiknya
Lalu mataku merasa malu
Semakin dalam ia malu kali ini
Kadang juga ia takut
Tatkala harus berpapasan ditengah pelariannya
Di malam hari
Menuju pagi
Sedikit cemas
Banyak rindunya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar